Selasa, 02 Oktober 2012


TEATER MODERN
Pertemuan ke 5

 

Teater Modern dan Tradisional


·       Perdebatan antara Tradisional dan Modern dalam teater –bagi sebagian besar kalangan, baik praktisi seni maupun kalangan akademis masih menarik. Paling tidak, inilah topik yang disodorkan oleh penyelenggara Kemah Teater Pelajar dan Umum 2003 di Ambulu, Jember. Hal ini disebabkan oleh keimpangsiuran persepsi modern di satu sisi, dan kecintaan pada khazanah tradisional yang diasumsikan sebagai matra dan entitas kebudayaan lokal disisi lain. Tidak ada yang perlu disalahkan dari kedua kecenderungan perbedaan ini.
·       Namun demikian, apakah kedua paham tersebut –teater Modern dan Tradisional, bersinergi atau saling berlawanan atau melakukan perlawanan satu sama lainnya? Inilah persoalan yang lebih signifikan untuk dibicarakan. Mengapa? Karena, terdapat kecenderungan bahwa teater Modern dipandang sebagai teater yang sulit dimengerti, dan teater tradisional lebih menghibur dan mudah dipahami. Untuk itu, teater Modern selalu dipersalahkan dan teater Tradisional selalu dirindukan. Akhirnya, kedua paham teater ini sama-sama tidak dapat berkembang ditengah-tengah masyarakat yang bukan semata-mata masyarakat kota, dan tidak pula mau mengakui sebagai masyarakat desa yang agraris dan maritim.
·       Pertumbuhan teater di Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan kecenderungan-kecenderungan individu dan masyarakatnya. Begitu pula dengan cara-cara menyikapi teater yang selalu diselaraskan dengan tatanan masyarakat yang ada. Penyelarasan ini merupakan bagian dari proses belajar diantara masyarakat dalam membuka jalan bagi terciptanya keharmonisan dan peningkatan cara hidup dari yang paling sederhana menuju cara yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila pada awal-awal kehidupan bangsa Indonesia itu dibangun, banyak tempat-tempat pertunjukan didirikan. Disamping itu, fleksibilitas masyarakat juga memberikan peluang bagi lahirnya teater-teater dengan “warna” yang beaneka ragam.
·       Pada awalnya teater modern tidak lahir dari kalangan terpelajar. Namun demikian, dengan berdirinya pusat-pusat pendidikan penting di kota-kota yang juga menjadi pusat perdagangan, maka kaum terpelajar kita selanjutnya mengambil peran penting sebagai pembawa ekspresi intelektual. Keberadaan kaum terpelajar ini menjadi penyeimbang, dan selanjutnya menjadi sosok yang memberikan nilai tersendiri dalam merebut perhatian publik yang mulai memandang kaum terpelajar sebagai masyarakat yang terpandang.
·       Teater tradisional yang tumbuh dalam masyarakat pinggiran kota dan desa, tidak serta merta tersingkir dengan lahirnya teater modern. Bahkan, teater-teater modern yang tumbuh mampu bersinergi dengan teater tradisional. Hal ini disebabkan oleh kuatnya hubungan kultural masyarakat yang memandang nilai tradisional tersebut sebagai nilai luhur dari pendahulu mereka yang “tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas”. Disamping itu, nilai-nilai tradisional dianggap telah memberikan makna penting dalam tatanan kehidupan mereka.

Pertumbuhan Teater Modern di Indonesia dan di “Barat”
·       Embrio teater di Indonesia itu sendiri dapat dikatakan tumbuh dari tempat-tempat yang menjadi pusat dari struktur sosial yang tinggi. Jacob Sumardjo menyebutkan “Istana Yogyakarta, rumah-rumah bangsawan, rumah-rumah para priyai Jawa, bahkan juga rumah-rumah rakyat yang sedikit berada, dibangun untuk keperluan teater” (Jacob Sumardjo: 1992). Namun demikian, bukan berarti dalam struktur sosial masyarakat yang rendah, teater tidak tumbuh dengan pesat. Dalam struktur sosial yang rendah, teater lahir dari hubungan antar masyarakat dalam meregenerasikan pengetahuan-pengetahuan yang praktis tentang cara-cara bercocok tanam hingga cara-cara berburu binatang yang dapat digunakan dalam mempertahankan kehidupan mereka.
·       Perbedaan dari kedua tatanan kehidupan praktis teater antara kalangan istana, bangsawan, priyai dan orang kaya dengan kalangan rakyat jelata adalah dalam cara menghidupi teater tersebut. Prinsip dasar religius-magis masih menjadi bagian yang relatif sama diantara keduanya. Seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia sekitar abad 13, secara signifikan kultur religius-magis mengalami perubahan mendasar dalam cara menghidupi teater.
·       Sedangkan dalam sejarah teater “Barat”, kebangkitan teater Modern yang sangat kuat di Eropa dan Amerika berawal dari perkembangan realisme sekitar 1875. Beberapa penulis naskah yang diyakini berada dalam periode ini diantaranya adalah Anton Pavlovich Chekov, Hendrik Ibsen, Luigi Pirandello, August Strindberg, Eugene O’Neill, George Bernard Shaw, Jean-Paul Sartre, Samuel Becket, Sean O’Casey, John Osborne, Bertolt Brecht, Federico Garcia Lorca, Tennessee Williams, Arthur Miller, dan Jean Anouilh, sedangkan komedi Neil Simon dan Noel Coward, musical Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein disebut oleh Robert Cohen sebagai “modern commercial classics” (Robert Cohen: 1983, 170).
·       Lebih jauh Robert Cohen menyebutkan bahwa teater Modern dicirikan dari munculnya revolusi Politik di Amerika (1776) dan Perancis (1789) yang dengan sendirinya mengubah struktur politik dunia Barat, dan revolusi industri/teknologi memeriksa secara besar-besaran sistem ekonomi dan sosial di banyak negara, termasuk di Indonesia. Disamping politik dan sosial, secara simultan juga terjadi pada lapangan intelektual –dalam filsafat, ilmu pengetahuan, pemahaman sosial, dan masyarakat yang tak beragama.
·       Sedangkan dalam teater tersebutlah nama Jacques Copeau pendiri Theatre du Vieux-Columbier (1913) sebagai bapak teater modern (Evans, 1989: 53). Pada tahun yang sama, Copeau mengakhiri manifestonya dengan kata-kata suci –‘Pour l’oeuvre nouvelle qu’on nous laisse un treteau nu! Sebuah panggung kosong, sebuah ruang hampa: lima puluh tahun kemudian pencarian ini dilanjutkan dalam karya Peter Brook dan yang lainnya. Gagasan Copeau ini kemudian melahirkan teater-teater kontemporer dan eksperimental.
·       Namun demikian, sejarah modern dalam masyarakat “Barat” muncul melalui semangat humanisme Italia sekitar abad 14. Kemudian menemukan Renaissance yang menggugurkan kebekuan abad pertengahan dengan mengusung semangat pembebasan terhadap dogma agama, keberanian menerima dan menghadapi dunia nyata; keyakinan menemukan kebenaran dengan kemampuan sendiri; kebangkitan mempelajari kembali sastra dan budaya klasik; serta keinginan mengangkat harkat dan martabat manusia (Harun Hadiwijono, 1994: 11-12). Perjuangan panjang kebudayaan modern pun memuncak dengan kelahiran Pencerahan di abad 18.
·        Perbedaan nyata sejarah modernisme di Indonesia dengan “Barat” khususnya, tidak dengan sendirinya memisahkan paham teater keduanya. Karena, teater-teater modern di Indonesia berakar dari persentuhannya dengan “teater Barat”. Sedangkan pertemuannya dengan teater Tradisional, bagaimanapun juga membawa semangat yang berlawanan. Perlawanan tersebut lebih pada bentuk-bentuk pertunjukannya. Sedangkan dari gagasan-gagasan yang lahir melalui sumber-sumber penceritaannya secara realatif hampir sama dengan pendekatan dalam teater Tradisional. Jadi, disatu sisi hubungan teater Modern dan Tradisional di Indonesia menimbulkan perlawanan satu sama lain, namun disisi lain bersinergi hingga kini.
Catatan: Tulisan ini rangkuman makalah penulis untuk Temu Teater Pelajar dan Umum 2003 di Ambulu, Jember oleh Autar Abdillah)

Topik Diskusi

1.          Bagaimana pendapat anda tentang pengertian dan teknik teater modern, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia! Apakah anda setuju dengan adanya perbedaan di kedua wilayah ini. Bila anda setuju ada perbedaan, jelaskanlah. Dan, bila anda tidak setuju, jelaskan pula alasannya!
2.          Bagaimana pendapat anda perbedaan antara teater Tradisional dan Modern di Indonesia. Mengapa perbedaan tersebut terjadi?
3.          Jika anda diminta memilih, bentuk teater mana (modern atau tradisional) yang lebih anda minati. Jelaskan pendapat anda!
4.          Di tempat anda tinggal, bentuk teater manakah yang lebih banyak berkembang. Jelaskan mengapa bentuk teater tersebut yang lebih berkembang!
5.          Bagaimana pendapat anda tentang catatan Tradisional dan Modern Teater dalam tulisan diatas.
Bersambung ke Pertemuan 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar